Kondisi Geografis Wilayah Indonesia Secara Geografis, wilayah Indonesia yang cukup luas dengan sebagai negara kepulauan ternyata menjadi salah satu penghambat pemerataan pembangunan pendidikan. Hal tersebut berakibat bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat terlaksana dengan maksimal khususnya di daerah terpencil. Ketimpangan pembangunan pendidikan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain sangat terlihat sekali, baik secara fisik maupun secara non-fisik. Padahal pembangunan pendidikan di daerah terpencil tidak boleh tertinggal dengan wilayah yang lain, mengingat bahwa semua wilayah itu adalah termasuk wilayah NKRI yang berarti berhak atas pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945.
Ketika disodori data pendidikan, pasti akan banyak ditemukan permasalahan-permasalahan klasik yang terjadi di daerah terpencil. Masalah-masalah tersebut antara lain: kekurangan jumlah pengajar, sarana prasarana yang jauh dari layak, lokasi sekolah yang berjauhan dengan tempat tinggal baik guru maupun murid, dan masih banyak lagi permasalahan klasik yang ada di daerah-daerah terpencil terkait dengan permasalahan pendidikan di Indonesia. Kualitas tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan juga terkadang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain terutama di Pulau Jawa dengan di luar Pulau Jawa, daerah perkotaan dengan daerah pedesaan maupun daerah pinggiran.
Salah satu penyebab rendahnya indeks pembangunan pendidikan di Indonesia adalah tingginya jumlah anak putus sekolah. Sedikitnya setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan. Data pendidikan tahun 2010 juga menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Bahkan laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan menunjukan bahwa setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Pendidikan di Indonesia sangat tidak merata. Akibatnya banyak anak-anak di daerah terpencil sana tidak mendapat fasilitas yang selayaknya. Tidak seperti pendidikan di pusat (Jakarta). Disini semua fasilitias hampir terpenuhi dan layak sekali untuk digunakan sebagai sarana belajar-mengajar. Tapi kita lihat di daerah terpencil sana (Papua & Perbatasan di Kalimantan), sangat ironis bukan?. Kita sama-sama warga Indonesia, kita seharusnya memiliki hak yang sama. Tapi nyatanya, orang-orang disana sangat kesulitan untuk mendapatkan fasilitas. Jangankan fasilitas, jarak tempuh atau transportasi di sana pun sangat sulit dan jauh. Seorang anak bisa menempuh jarak 3-5 KM lebih untuk sampai ke sekolah. Bukan hanya jarak, namun medan yang di tempuh pun sangat sulit (Seperti bebatuan, Jembatan yang rusak, Jalanan yang berlubang, dll).
Solusi untuk masalah diatas adalah pemerataan dana ke daerah-daerah terpencil. Anggarkan dana lebih untuk pendidikan di daerah terpencil sana, kurangi dana pendidikan untuk daerah pusat (Jakarta), karena di Jakarta semua nya hampir sudah terpenuhi dan jika kita ingin melakukan pemerataan pendidikan kita harus berani melakukan hal tersebut.
Semoga kedepannya Indonesia ku yang tercinta ini dapat membaik dalam hal pendidikan. Indonesia harus belajar dari masa lalu dan terus maju kedepan.
Kondisi Geografis Wilayah Indonesia Secara Geografis, wilayah Indonesia yang cukup luas dengan sebagai negara kepulauan ternyata menjadi salah satu penghambat pemerataan pembangunan pendidikan. Hal tersebut berakibat bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat terlaksana dengan maksimal khususnya di daerah terpencil. Ketimpangan pembangunan pendidikan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain sangat terlihat sekali, baik secara fisik maupun secara non-fisik. Padahal pembangunan pendidikan di daerah terpencil tidak boleh tertinggal dengan wilayah yang lain, mengingat bahwa semua wilayah itu adalah termasuk wilayah NKRI yang berarti berhak atas pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945.
Ketika disodori data pendidikan, pasti akan banyak ditemukan permasalahan-permasalahan klasik yang terjadi di daerah terpencil. Masalah-masalah tersebut antara lain: kekurangan jumlah pengajar, sarana prasarana yang jauh dari layak, lokasi sekolah yang berjauhan dengan tempat tinggal baik guru maupun murid, dan masih banyak lagi permasalahan klasik yang ada di daerah-daerah terpencil terkait dengan permasalahan pendidikan di Indonesia. Kualitas tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan juga terkadang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain terutama di Pulau Jawa dengan di luar Pulau Jawa, daerah perkotaan dengan daerah pedesaan maupun daerah pinggiran.
Salah satu penyebab rendahnya indeks pembangunan pendidikan di Indonesia adalah tingginya jumlah anak putus sekolah. Sedikitnya setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan. Data pendidikan tahun 2010 juga menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Bahkan laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan menunjukan bahwa setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Pendidikan di Indonesia sangat tidak merata. Akibatnya banyak anak-anak di daerah terpencil sana tidak mendapat fasilitas yang selayaknya. Tidak seperti pendidikan di pusat (Jakarta). Disini semua fasilitias hampir terpenuhi dan layak sekali untuk digunakan sebagai sarana belajar-mengajar. Tapi kita lihat di daerah terpencil sana (Papua & Perbatasan di Kalimantan), sangat ironis bukan?. Kita sama-sama warga Indonesia, kita seharusnya memiliki hak yang sama. Tapi nyatanya, orang-orang disana sangat kesulitan untuk mendapatkan fasilitas. Jangankan fasilitas, jarak tempuh atau transportasi di sana pun sangat sulit dan jauh. Seorang anak bisa menempuh jarak 3-5 KM lebih untuk sampai ke sekolah. Bukan hanya jarak, namun medan yang di tempuh pun sangat sulit (Seperti bebatuan, Jembatan yang rusak, Jalanan yang berlubang, dll).
Solusi untuk masalah diatas adalah pemerataan dana ke daerah-daerah terpencil. Anggarkan dana lebih untuk pendidikan di daerah terpencil sana, kurangi dana pendidikan untuk daerah pusat (Jakarta), karena di Jakarta semua nya hampir sudah terpenuhi dan jika kita ingin melakukan pemerataan pendidikan kita harus berani melakukan hal tersebut.
Semoga kedepannya Indonesia ku yang tercinta ini dapat membaik dalam hal pendidikan. Indonesia harus belajar dari masa lalu dan terus maju kedepan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar