ARTIKEL
: MEMBUAT MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN YANG MENYENANGKAN BAGI
SISWA SD
FaurisaRahmi
UniversitasMuhammadiyah
Jakarta
Faurisarahmi@gmail.com
Abstrak
Penulisan ini
bertujuan untuk: membuat materi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
yang menyenangkan bagi siswa sd agar lebih memahami materi pembelajaran pkn yang disampaikan oleh guru. Metode yang
digunakan adalah metode studi pustaka. Pembelajaran pkn di sd seharusnya lebih menekannkan
pada pendidikan karakter dan moral peserta didik, agar pembelajaran pkn dapat diterapkan
dalam kehidupan siswa sehari- hari. Pendidikan kewarganegaraan memiliki peran
yang sangat penting dalam meningkatkan karakter peserta didik yang lebih berkualitas
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk itu diperlukan adanya
kreatifitas guru dalam membuat materi pkn menjadi lebih bermakna dan menyenangkan
bagi peserta didik usia sd.
Pendahuluan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran
yang strategis untuk menanamkan karakter bangsa dan ini sangat berpengaruh
terhadap kualitas sumber daya manusia di Indonesia sehingga seorang guru PKn
harus memiliki kemampuan mengajar yang baik, profesional, dan menyenangkan.
Didalam pelaksanaan pembelajaran harus pandai merumuskan materi pelajaran PKn
yang membuat peserta didik senang.
Materi PKn selama ini dalam proses pembelajarannya masih
menonton, belum kreatif sehingga peserta didik belajar PKn sangat membosankan
ini semua diakibatkan karna guru belum pandai membuat materi atau menyampaikan
materi PKn yang menyenangkan. Selama ini guru dalam menyampaikan materi masih
sifatnya informatif dengan metode ceramah dan tanya jawab, hal ini dibutuhkan
strategi bagaimana membuat materi pembelajaran PKn yang menyenangkan bagi siswa
sekolah dasar.
Sekolah tingkat dasar masih membutuhkan dalam pendekatan
pembelajaran dengan cara bermain, dan yang ada sekarang justru terlalu serius
didalam mengajar PKn karna itu yang paling tepat didalam pembelajaran PKn di
tingkat sd diupayakan didalam materi- materinya harus memiliki nuansa bermain
sehingga peserta didik belajarnya lebih menyenangkan. Ada beberapa yang membuat
materi PKn lebih menyenangkan selaindengan metode ceramah, tanya jawab yaitu
metode bermain peran, metode demntrasi dan lainnya. Karna itu dalam penulisan
artikel ini dilatar belakangi berbagai permasalahan tersebut diatas.
Buku- buku PKn yang ada materinya masih sangat serius dan
terlalu menonton, karna didalamnya menerangkan yang sifatnya hanya sebatas
pengetahuan, peserta didik tidak diajak ketika membaca PKn kearah yang bersifat
permainan atau latihan- latihan yag membuat peserta didik senang belajar karna
itu diharapkan dalam penulisan materi perlu difikirkan sesuai dengan
perkembangan jiwa anak dan kesukaan anak. Dilingkungan kelas untuk pembelajaran
materi PKn selama ini khususnya dinding kelas masih banyak tidak dimanfaatkan
untuk pembelajaran materi PKn justru, dinding bisa menjadi media yang
memperkuat materi pembelajaran PKn yang menyenangkan karna dengan adanya
gambar- gambar tokoh pahlawan atau gambar- gambar yang menarik yang berkaitan
dengan PKn peserta didik lebih menarik untuk belajar karna itu inilah yang
melatarbelakangi pembuatan artikel yang berjudul Membuat Materi Pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan yang
Menyenangkan Bagi Siswa SD.
Metode
Penulisan
artikel ini menggunakan metode KajianPustaka.
Pembahasan
Selayaknya Pkn sebagai Mata Pelajaran yang berintikan Pendidikan
Nilai (value education) disampaikan dengan dinamis, demokratis dan menyenangkan
melalui variasi MMSE. Dalam memilih variasi MMSE tersebut perlu diperhatikan /
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1.
Sesuai
MMSE dengan situasi,
kondisi dimana siswa tersebut belajar;
2.
Domain
Taksonomi (Cognitive, Afective, Psikomotor) harus menjadi acuan, karena setiap materi pembelajaran memiliki domain yang
berbeda-beda. Berikut adalah
MMSE yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran PKn.
Pendekatan
dalam pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan mengacu pendekatan-pendekatan nilai
yang dikemukakan Douglas Superka
(Djahiri, 1985 : 39 – 42), bahwa terdapat 8 pendekatan dalam pendidikan
nilai, yaitu :
- Evocation Approach, yaitu pendekatan ekspresi spontasi, dimana siswa diberi kesempatan
dan kebebasan untuk mengekspresikan tanggapan, perasaan, penilaian dan
pandangannya terhadap sesuatu hal;
- Inculcation Approach, yaitu pendekatan sugesti terarah, dimana guru sangat menentukan
denga memberikan rangsangan yang menggiring siswa secara halus pada suatu
kesimpulan atau pendapat yang sudah ditentukan;
- Awareness Approach, yaitu pendekatan kesadaran dengan cara menuntun anak untuk
mengklasifikasikan dirinya atay bukau irabg kaub/umum melalui suatu
kegiatan;
- Moral Reasoning Approach, yaitu pendekatan yang digunakan untuk
mencari/menentukan kejalasan moral melalui stimulus yang berupa dilema
(masalah pelik yang dilemparkan siswa pada siswa)
- Analisys Approach, yaitu pendekatan melalui analisis nilai yang ada dalam suatu
media/stimulls mulai dari analisis seadanya berupa reportasi sampai pada
pengkajian secara akurat, teliti, dan tepat;
- Value Clarification Approach, yaitu pendekatan dengan membina kesadaran emosional siswa melalui
cara yang kritis rasional dengan mengklasifikasi dan menguji kebenaran,
kebaikan, keadilan, kelayakan dan ketepatannya;
- Commitment Approach, yaitu pendekatan kesepakatan, dimana siswa diajak untuk menyepakati
sikap dan pola pikir berdasarkan acuan tertentu;
- Union Approach, yaitu pendekatan dengan mengintegrasikan diri dalam kehidupan riil
atau stimuli yang dirancang guru.
Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar
ia terdorong untuk bertindak
melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi belajar
adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan
timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick J. Mc Donald
dalam H. Nashar,2004:39). Tetapi menurut Clayton Alderferdalam H. Nashar
(2004:42) Motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar
yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.
Motivasi belajar juga merupakan kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan diri secara
optimum, sehingga mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif
(Abraham Maslow dalam H. Nashar, 2004:42). Kemudian menurut Clayton Alderfer dalam H.Nashar, 2004:42) motivasi belajar adalah suatu dorongan
internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang (individu) untuk bertindak atau
berbuat mencapai
tujuan, sehingga perubahan tingkah laku pada diri siswa diharapkan terjadi. Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang
dan belajar secara sungguh-sungguh yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar
siswa yang sistematis, penuh konsentrasi
dan dapat menyeleksi kegiatan-kegiatannya.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menjadi
seorang guru bukanlah hal yang mudah. Seorang
guru harus mampu membuat matapelajaran yang berat menjadi ringan dan mudah
untuk dipelajari oleh siswa sd. Dalam hal ini guru sebaiknya tidak hanya
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja agar pembelajaran dapat lebih
bermakna dan menyenangkan.
Saran
1. Sebaiknya guru tidak hanya memberikan
materi di dalam kelas saja tetapi juga diluar kelas
2. Guru harus mampu membuat matapelajaran
menjadi menyenangkan bagi siswa
3. Sebaiknya guru dapat memanfaatkan
ruangan kelas bukan hanya sebagai tempat belajar melainkan dapat digunakan
sebagai sumer dan media pembelajaran bagi siswa.
Daftar Pustaka
Barnadib,
Imam, 1996, Dasar- Dasar Kependidikan, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Budiningsih,
C. Asri, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta