Sabtu, 20 Juni 2015

ARTIKEL : MEMBUAT MATERI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN YANG MENYENANGKAN BAGI SISWA SD
FaurisaRahmi
UniversitasMuhammadiyah Jakarta
Faurisarahmi@gmail.com

Abstrak
Penulisan ini bertujuan untuk: membuat materi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang menyenangkan bagi siswa sd agar lebih memahami materi pembelajaran pkn yang disampaikan oleh guru. Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka. Pembelajaran pkn di sd seharusnya lebih menekannkan pada pendidikan karakter dan moral peserta didik, agar pembelajaran pkn dapat diterapkan dalam kehidupan siswa sehari- hari. Pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan karakter peserta didik yang lebih berkualitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk itu diperlukan adanya kreatifitas guru dalam membuat materi pkn menjadi lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik usia sd.

Pendahuluan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran yang strategis untuk menanamkan karakter bangsa dan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di Indonesia sehingga seorang guru PKn harus memiliki kemampuan mengajar yang baik, profesional, dan menyenangkan. Didalam pelaksanaan pembelajaran harus pandai merumuskan materi pelajaran PKn yang membuat peserta didik senang.
Materi PKn selama ini dalam proses pembelajarannya masih menonton, belum kreatif sehingga peserta didik belajar PKn sangat membosankan ini semua diakibatkan karna guru belum pandai membuat materi atau menyampaikan materi PKn yang menyenangkan. Selama ini guru dalam menyampaikan materi masih sifatnya informatif dengan metode ceramah dan tanya jawab, hal ini dibutuhkan strategi bagaimana membuat materi pembelajaran PKn yang menyenangkan bagi siswa sekolah dasar.
Sekolah tingkat dasar masih membutuhkan dalam pendekatan pembelajaran dengan cara bermain, dan yang ada sekarang justru terlalu serius didalam mengajar PKn karna itu yang paling tepat didalam pembelajaran PKn di tingkat sd diupayakan didalam materi- materinya harus memiliki nuansa bermain sehingga peserta didik belajarnya lebih menyenangkan. Ada beberapa yang membuat materi PKn lebih menyenangkan selaindengan metode ceramah, tanya jawab yaitu metode bermain peran, metode demntrasi dan lainnya. Karna itu dalam penulisan artikel ini dilatar belakangi berbagai permasalahan tersebut diatas.
Buku- buku PKn yang ada materinya masih sangat serius dan terlalu menonton, karna didalamnya menerangkan yang sifatnya hanya sebatas pengetahuan, peserta didik tidak diajak ketika membaca PKn kearah yang bersifat permainan atau latihan- latihan yag membuat peserta didik senang belajar karna itu diharapkan dalam penulisan materi perlu difikirkan sesuai dengan perkembangan jiwa anak dan kesukaan anak. Dilingkungan kelas untuk pembelajaran materi PKn selama ini khususnya dinding kelas masih banyak tidak dimanfaatkan untuk pembelajaran materi PKn justru, dinding bisa menjadi media yang memperkuat materi pembelajaran PKn yang menyenangkan karna dengan adanya gambar- gambar tokoh pahlawan atau gambar- gambar yang menarik yang berkaitan dengan PKn peserta didik lebih menarik untuk belajar karna itu inilah yang melatarbelakangi pembuatan artikel yang berjudul Membuat Materi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang  Menyenangkan Bagi  Siswa SD.

Metode
Penulisan artikel ini menggunakan metode KajianPustaka.




Pembahasan
Selayaknya Pkn sebagai Mata Pelajaran yang berintikan Pendidikan Nilai (value education) disampaikan dengan dinamis, demokratis dan menyenangkan melalui variasi MMSE. Dalam memilih variasi MMSE tersebut perlu diperhatikan / mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1.      Sesuai MMSE dengan situasi, kondisi dimana siswa tersebut belajar;
2.      Domain Taksonomi (Cognitive, Afective, Psikomotor) harus menjadi acuan, karena setiap materi pembelajaran memiliki domain yang berbeda-beda. Berikut adalah MMSE yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran PKn.
Pendekatan dalam pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan mengacu pendekatan-pendekatan nilai yang dikemukakan  Douglas Superka (Djahiri, 1985 : 39 – 42), bahwa terdapat  8 pendekatan dalam pendidikan nilai, yaitu :
  1. Evocation Approach, yaitu pendekatan ekspresi spontasi, dimana siswa diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengekspresikan tanggapan, perasaan, penilaian dan pandangannya terhadap sesuatu hal;
  2. Inculcation Approach, yaitu pendekatan sugesti terarah, dimana guru sangat menentukan denga memberikan rangsangan yang menggiring siswa secara halus pada suatu kesimpulan atau pendapat yang sudah ditentukan;
  3. Awareness Approach, yaitu pendekatan kesadaran dengan cara menuntun anak untuk mengklasifikasikan dirinya atay bukau irabg kaub/umum melalui suatu kegiatan;
  4. Moral Reasoning Approach, yaitu pendekatan yang digunakan untuk mencari/menentukan kejalasan moral melalui stimulus yang berupa dilema (masalah pelik yang dilemparkan siswa pada siswa)
  5. Analisys Approach, yaitu pendekatan melalui analisis nilai yang ada dalam suatu media/stimulls mulai dari analisis seadanya berupa reportasi sampai pada pengkajian secara akurat, teliti, dan tepat;
  6. Value Clarification Approach, yaitu pendekatan dengan membina kesadaran emosional siswa melalui cara yang kritis rasional dengan mengklasifikasi dan menguji kebenaran, kebaikan, keadilan, kelayakan dan ketepatannya;
  7. Commitment Approach, yaitu pendekatan kesepakatan, dimana siswa diajak untuk menyepakati sikap dan pola pikir berdasarkan acuan tertentu;
  8. Union Approach, yaitu pendekatan dengan mengintegrasikan diri dalam kehidupan riil atau stimuli yang dirancang guru.
Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Motivasi belajar adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick J. Mc Donald dalam H. Nashar,2004:39). Tetapi menurut Clayton Alderferdalam H. Nashar (2004:42) Motivasi belajar adalah kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin. Motivasi belajar juga merupakan kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif (Abraham Maslow dalam H. Nashar, 2004:42). Kemudian menurut Clayton Alderfer dalam H.Nashar, 2004:42) motivasi belajar adalah suatu dorongan internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang (individu) untuk bertindak atau berbuat mencapai tujuan, sehingga perubahan tingkah laku pada diri siswa diharapkan terjadi. Jadi motivasi belajar adalah kondisi psikologis  yang mendorong siswa untuk belajar dengan senang dan belajar secara sungguh-sungguh yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar siswa yang sistematis,  penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kegiatannya.






Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Seorang guru harus mampu membuat matapelajaran yang berat menjadi ringan dan mudah untuk dipelajari oleh siswa sd. Dalam hal ini guru sebaiknya tidak hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja agar pembelajaran dapat lebih bermakna dan menyenangkan.
Saran
1.      Sebaiknya guru tidak hanya memberikan materi di dalam kelas saja tetapi juga diluar kelas
2.      Guru harus mampu membuat matapelajaran menjadi menyenangkan bagi siswa
3.      Sebaiknya guru dapat memanfaatkan ruangan kelas bukan hanya sebagai tempat belajar melainkan dapat digunakan sebagai sumer dan media pembelajaran bagi siswa.


















Daftar Pustaka
Barnadib, Imam, 1996, Dasar- Dasar Kependidikan, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Budiningsih, C. Asri, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta





Tidak ada komentar:

Posting Komentar