Sabtu, 20 Juni 2015

TIPE DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

TIPE DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN

TIPE SUPERVISI
Regulasi pendidikan mengemukakan bahwa pemerintah dalam menjalankan supervisi pada tingkatan satuan pendidikan mempunyai dua objek sasaran, yaitu secara personal dan institusional. Secara personal, hal itu terlihat pada model supervisi yang menyebutkan bahwa pengawas bertugas membimbing dan melatih profesionalisme pendidikan dan tenaga kependidikan lainnya di satuan pendidikan binaannya. Sedangkan secara institusional menyebutkan bahwa pengawas bertugas meningkatkan kualitas 8 standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan. Sehubungan dengan hal itu, menurut supardi ada lima tipe supervisi, yaitu:

1.    Tipe Inspeksi
Tipe ini merupakan tipe supervisi yang mewajibkan supervisor turun melihat langsung hal-hal yang dikerjakan targer supervisi. Kegiatan supervisi yang menggunkan tipe ini, apabila target supervisi melakukan dalam aktifitas kerjanya, supervisor dapat menginformasikannya secara langsung kepada target supervisi agar langsung menyadari kesalahannya dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah.

Ketika supervisor menjalankan tipe ini, maka yang harus diperhatikan adalah:
a.    Supervisi tidak boleh dilakukan berdasarkan hubungan pribadi maupun keluarga.
b.    Supervisi hendaknya tidak kemungkinan terhadap perkembangan dan hasrat untuk maju bagi bawahannya. Supervisi tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil, mendesak
c.    Supervisi tidak boleh menuntut prestasi di luar kemampuan bawahannya.
d.   Supervisi tidak boleh egois, tidak jujur dan menutup diri terhadap kritik dan saran dari bawaannya.

2.    Tipe Laisses Faire
Tipe ini target supervisi diberikan kebebasan dalam menjalankan aktifitasnya. Sebab yang dutamakan dalam supervisi model ini adalah hasil akhir sehingga supervisor tidak begitu intens daslam memfokuskan proses kerja yang dilaksanakan target supervisi. Selain itu apabila kita menggunakan tipe inii, supervisor tidak boleh memaksakan kemauannya (otoriter) kepada orang-orang yang disupervisi.
Supervisor juga diharuskan memberikan argumentasi atau alasan yang rasional tentang tindakan-tindakan serta instruksinya. Hendaknya tidak menonjolkan jabatan atau kekuasaannya agar tidak menghambat kreativitas bawahannya.
3.    Tipe Coersive
Tipe coersive (paksaan) supervisor dalam melaksanakan tugasnya turut campur dalam mengembangkan pendidiknya. Tipe supervisi seperti ini diperuntukan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan yang masih lemah daslam memahami tugas dan tanggung jawabnya. Tipe seperti ini “terpaksa” dilakukan karena pendapat A. Sitohang yang menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia masih sangat dibutuhkan. Karena ternyata dari hasil penelitian menunjukan masih banyak kekurangan dan kelemahan yang masih harus diperbaiki, terutama dalam bidang pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan yang sesuai dengan target organisasi. Dalam hal ini adalah seperti lembaga pendidikan Islam. Dengan adanya tipe ini, diharapkan problem seperti ini akan cepat teratasi.

4.    Tipe Training and Guidance
Tipe training and guidance (pelatihan dan pendampingan) merupakan tipe supervisi yang menekankan keefektifan target supervisi. Kegiatan supervisi dilaksanakan dengan berbasis kepada pengembangan minat dan bakat target supervisi. Tipe training and guidanceini cocok digunakan apabila target supervisi masih belum berpengalaman dalam melaksanakan tugas keprofesian pendidikan. Namun, tipe ini dapat diterapkan kepada target supervisi yang telah berpengalaman.
Agar tipe training and guidance ini dapat dijalankan secara efektif, maka supervisor hendaknya juga menyiapkan berbagai macam sikap yang bersinergi dengan tugasnya. Teori Kiyosaki, maka beberapa sikap yang dibutuhkan supervisor tersebut antara lain:
a.    Supervisor hendaknya bersikap positif terhadap segala macam persepsi baik yang positif maupun negatif kepada dirinya.
b.    Supervisor dituntut untuk dapat memimpin organisasi profesi pengawas untuk dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal pengawasan dan pemantauan baik secara institusional (satuan pendidikan) maupun personal (pendidikan dan tenaga kependidikan).
c.    Supervisor hendaknya memiliki sikap yang superl dalam berkomunikasi kepada segenapstakeholders pendidikan. Sikap yang aktif, efektif dan menyenangkan dalam berkomunikasi akan memperlancar tugas supervisi. Sehinggak pencapaian target akan terealisasi dengan tepat.
d.   Supervisor harus bersikap berani terhadap usaha intimidasi atau tekanan dari pihak lain dalam menjalankan tugas pengawasan dan pembinaan.
e.    Supervisor dituntut bertanggung jawab atas hasil supervisi terhadap satuan pendidikan yang dibinanya. Pertanggungjawaban atas hasil kerja merupakan indikasi bahwa supervisor melakukan pembinaan dan pengawasan dengan baik kepada satuan pendidikan yang dibinanya.
5.    Tipe Demokratis
Keterlibatan target supervisi sangat diandalkan dalam tipe supervisi demokratis. Hal utama yang ingin dituju adalah adanya kerjasama pembinaan antara supervisor dan target supervisor dan target supervisor. Langkah ini dilakukan agar target supervisi ikut merasakan sendiri terhadap program supervisi yang dijalankan kepadanya. Untuk itu, supervisor tidak boleh boleh bersifat otoriter dalam menjalankan kegiatan supervisi.[6] Keseluruhan tipe supervisi demokratis ini difokuskan ke dalam satuan pendidikan meliputi manajemen kurikulum pembelajaran; kesiswaan; sarana prasarana; ketenagaan; keuangan; hubungan sekolah dengan masyarakat dan layanan khusus.








Berbagai macam teknik dapat digunakan oleh supervisor dalam membantu guru meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara individual maupun kelompok. Sahertian (1982:45) teknik – teknik dalam supervisi pendidikan antara lain,

TEKNIK SUPERVISI
A.  Teknik yang bersifat Individual
·           Perkunjungan Kelas
Kepala sekolah/supervisor datang ke kelas untuk melihat cara guru mengajar di kelas. Tujuan dari perkunjungan kelas adalah untuk memperoleh data mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Supervisor dapat berbincang-bincang dengan guru tentang kesulitan yang dihadapi guru-guru. Selain itu menurut Burhanuddin, dkk (2007: 119) selama kunjungan kelas kepala sekolah dan pengawas antara lain dapat:
1)      Mempelajari kekuatan dan kelemahan pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk pengembangan dan pembinaan lebih lanjut
2)      Mengidentifikasikan kendala yang dihadapi sewaktu melaksanakan suatu pembaharuan pengajaran
3)      Secara langsung mengetahui keperluan guru dan siswa dalam melaksanakan suatu gagasan belajar mengajar secara efektif
4)      Memperoleh sejumlah informasi untuk menyusun program pembinaan profesional secara terinci
5)      Menumbuhkan sikap percaya diri guru untuk berbuat dan melaksanakan pembelajaran yang lebih baik
·           Kunjungan observasi
Melalui perkunjungan kelas, supervisor dapat mengobservasi situasi belajar-mengajar yang sebenarnya. Ada 2 macam observasi kelas antara lain, Observasi langsung dan Observasi tidak langsung. Tujuan observasi:
a.       Untuk memperoleh data yang subjektif.
b.      Bagi guru sendiri dapat membantu untuk mengubah cara-cara mengajar ke arah yang lebih baik.
c.       Bagi murid-murid dapat menimbulkan pengaruh positif terhadap kemajuan belajar mereka.
·           Membimbing guru- guru tentang cara- cara mempelajari pribadi siswa dan mengatasi pronlemayang dialamin siswa
Banyak masalah yang dialami guru dalam mengatasi kesulitan- kesulitan belajar siswa. Misalnya siswa yang lamban dalam belajar, tidak dapat memusatkan perhatian, siswa yang nakal, dan siswa yang kurang bergaul dengan temannya. Meskipun dibeberapa sekolah mungkin telah dibentuk bagian bimbingan dan konseling, masalah yang sering timbul didalam kelas yang disebabkan oleh siswa itu sendirilebih baik dipecahkan atau diatasi oleh guru kelas itu sendiri dari pada diserahkan kepada guru bimbingan atau konselor yang mungkin akan memakan waktu yang lebih lama mengatasinya. Disamping itu kita harus menyadari bahwa guru kelas adalah pembimbing yang utama.

·           Membimnbing guru- guru dalam hal- hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah
Antara lain:
Ø  Menyusun program Catur Wulan
Ø  Menyusun Program Satuan Pelajaran
Ø  Mengorganisasi kegiatan pengelola kelas
Ø  Melaksanakan teknik evaluasi pengajaran
Ø  Menggunakan media dan sumber dalam proses belajar mengajar
Ø  Mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ekstyrakulikuler, study tour, dan sebagainya.

B.  Teknik-teknik yang bersifat Kelompok
Tehnik-tehnik yang yang bersifat kelompok ialah tehnik-tehnik yang digunakan itu dilaksanakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam suatu kelompok. Pertemuan orientasi bagi guru baru ( orientation meeting for new teacher) Pertemuan itu ialah salah satu daripada pertemuan yang bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja yang baru. Pertemuan orientasi ini bukan saja guru baru tapi juga seluruh staf guru.


1.    Rapat Guru
Ada beberapa macam rapat yang diadakan di sekolah. Ada rapat dewan guru, rapat guru-guru, dan rapat personalia sekolah. Jika ditinjau dari sudut waktu, dibedakan menjadi berikut:
1)      Rapat yang diadakan pada waktu tertentu, misalnya:
a.    Rapat permulaan tahun ajaran baru
b.    Rapat akhir tahun ajaran
c.    Rapat mingguan, bulanan, dan rapat kenaikan kelas.
d.   Rapat yang diadakan sewaktu-waktu,misalnya karena ada kejadian atau keperluan, guru-guru secara kilat diundang untuk berunding.
2)      Rapat dalam keadaan darurat, diadakan karena keadaan mendesak. Rapat darurat diadakan secara tiba-tiba.
2.    Workshop
Workshop adalah suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah pendidik yang sedang memecahkan masalah melalui percakapan dan bekerja secara kelompok. Hal–hal yang perlu diperhatikan pada waktu pelaksanaan workshop antara lain: 1) Masalah yang dibahas bersifat “Life cntered”dan muncul dari guru tersebut, 2) Selalu menggunakan secara maksimal aktivitas mental dan fisik dalam kegiatan sehingga tercapai perubahan profesi yang lebih tinggi dan lebih baik.
Workshop adalah salah satu teknik supervisi yang memberi kesempatan kepada para peserta untuk memikirkan masalah mereka, dibantu oleh nara sumber atau resource people, sambil berusaha memecahkannya. Salah satu fungsi dari workshop adalah memperbesar, memperkuat, serta mempertimbangkan keterampilan peserta dalam kerja kelompok.
Unsur yang penting dalam workshop adalahcommittee work atau pekerjaan panitia. Panitia utama adalah perencana yang bertanggung jawab atas perencanaan, organisasi, dan perbaikan program. Panitia lain yang diperlukan ialah panitia perpustakaan, penilaian, publikasi, bulletin board, dekorasi, dan akomodasi.
3.      Seminar
Secara terminology seminar adalah sebuah kegiatan yang di buat untuk penyampaian suatu karya ilmiah dari seorang pakar atau peneliti yang dipresentasekan kepada peserta agar dapat mengambil keputusan yang sama terhadap karya ilmiah antara sumber dengan peserta.
Seminar tentunya haruslah direncanakan baik waktu, tempat, peserta dan juga menentukan pengarah dan sumber dari hasil karya ilmiah agar dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan seminar yang akan dilaksanakan. Sebagaimana kita ketahui tujuan seminar pendidikan adalah untuk mengkoreksi kembali hasil dari sebuah karya ilmiah untuk mengambil keputusan bersama demi kesempurnaan hasil. Kegiatan seminar pendidikan tanpa perencanaan akan jauh dari pada tujuan seminar tersebut, seorang peneliti atau narasumber dalam seminar juga harus benar-benar sudah memahami dan menguasai isi dari hasil yang ia dapatkan dan peserta juga telah mengetahui untuk apa dia mengikuti seminar dan benar-benar sudah mengetahui minimal judul dari yang akan diseminarkan serta harus ada seorang pengarah dalam acara seminar tersebut.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar