TIPE DAN TEKNIK
SUPERVISI PENDIDIKAN
TIPE SUPERVISI
Regulasi pendidikan
mengemukakan bahwa pemerintah dalam menjalankan supervisi pada tingkatan satuan
pendidikan mempunyai dua objek sasaran, yaitu secara personal dan institusional.
Secara personal, hal itu terlihat pada model supervisi yang menyebutkan bahwa
pengawas bertugas membimbing dan melatih profesionalisme pendidikan dan tenaga
kependidikan lainnya di satuan pendidikan binaannya. Sedangkan secara
institusional menyebutkan bahwa pengawas bertugas meningkatkan kualitas 8
standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan. Sehubungan dengan hal itu,
menurut supardi ada lima tipe supervisi, yaitu:
1. Tipe Inspeksi
Tipe ini merupakan tipe supervisi yang mewajibkan supervisor turun melihat
langsung hal-hal yang dikerjakan targer supervisi. Kegiatan supervisi yang
menggunkan tipe ini, apabila target supervisi melakukan dalam aktifitas
kerjanya, supervisor dapat menginformasikannya secara langsung kepada target
supervisi agar langsung menyadari kesalahannya dalam proses untuk mencapai
tujuan pendidikan sekolah.
Ketika supervisor menjalankan tipe ini, maka yang harus diperhatikan
adalah:
a. Supervisi tidak boleh dilakukan berdasarkan hubungan pribadi maupun
keluarga.
b. Supervisi hendaknya tidak kemungkinan terhadap perkembangan dan hasrat
untuk maju bagi bawahannya. Supervisi tidak boleh terlalu cepat mengharapkan
hasil, mendesak
c. Supervisi tidak boleh menuntut prestasi di luar kemampuan bawahannya.
d. Supervisi tidak boleh egois, tidak jujur dan menutup diri terhadap kritik
dan saran dari bawaannya.
2. Tipe Laisses Faire
Tipe ini target supervisi diberikan kebebasan dalam menjalankan
aktifitasnya. Sebab yang dutamakan dalam supervisi model ini adalah hasil akhir
sehingga supervisor tidak begitu intens daslam memfokuskan proses kerja yang
dilaksanakan target supervisi. Selain itu apabila kita menggunakan tipe inii,
supervisor tidak boleh memaksakan kemauannya (otoriter) kepada orang-orang yang
disupervisi.
Supervisor juga diharuskan memberikan argumentasi atau alasan yang rasional
tentang tindakan-tindakan serta instruksinya. Hendaknya tidak menonjolkan
jabatan atau kekuasaannya agar tidak menghambat kreativitas bawahannya.
3. Tipe Coersive
Tipe coersive (paksaan) supervisor dalam melaksanakan tugasnya turut campur
dalam mengembangkan pendidiknya. Tipe supervisi seperti ini diperuntukan bagi
para pendidik dan tenaga kependidikan yang masih lemah daslam memahami tugas
dan tanggung jawabnya. Tipe seperti ini “terpaksa” dilakukan karena pendapat A.
Sitohang yang menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia masih sangat
dibutuhkan. Karena ternyata dari hasil penelitian menunjukan masih banyak
kekurangan dan kelemahan yang masih harus diperbaiki, terutama dalam bidang
pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan yang sesuai dengan target organisasi.
Dalam hal ini adalah seperti lembaga pendidikan Islam. Dengan adanya tipe
ini, diharapkan problem seperti ini akan cepat teratasi.
4. Tipe Training and Guidance
Tipe training and guidance (pelatihan dan pendampingan)
merupakan tipe supervisi yang menekankan keefektifan target supervisi. Kegiatan
supervisi dilaksanakan dengan berbasis kepada pengembangan minat dan bakat
target supervisi. Tipe training and guidanceini cocok digunakan
apabila target supervisi masih belum berpengalaman dalam melaksanakan tugas
keprofesian pendidikan. Namun, tipe ini dapat diterapkan kepada target supervisi
yang telah berpengalaman.
Agar tipe training and guidance ini dapat dijalankan
secara efektif, maka supervisor hendaknya juga menyiapkan berbagai macam sikap
yang bersinergi dengan tugasnya. Teori Kiyosaki, maka beberapa sikap yang
dibutuhkan supervisor tersebut antara lain:
a. Supervisor hendaknya bersikap positif terhadap segala macam persepsi baik
yang positif maupun negatif kepada dirinya.
b. Supervisor dituntut untuk dapat memimpin organisasi profesi pengawas untuk
dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal pengawasan dan pemantauan baik secara
institusional (satuan pendidikan) maupun personal (pendidikan dan tenaga
kependidikan).
c. Supervisor hendaknya memiliki sikap yang superl dalam berkomunikasi kepada
segenapstakeholders pendidikan. Sikap yang aktif, efektif dan
menyenangkan dalam berkomunikasi akan memperlancar tugas supervisi. Sehinggak
pencapaian target akan terealisasi dengan tepat.
d. Supervisor harus bersikap berani terhadap usaha intimidasi atau tekanan
dari pihak lain dalam menjalankan tugas pengawasan dan pembinaan.
e. Supervisor dituntut bertanggung jawab atas hasil supervisi terhadap satuan
pendidikan yang dibinanya. Pertanggungjawaban atas hasil kerja merupakan
indikasi bahwa supervisor melakukan pembinaan dan pengawasan dengan baik kepada
satuan pendidikan yang dibinanya.
5. Tipe Demokratis
Keterlibatan target supervisi sangat diandalkan dalam tipe supervisi
demokratis. Hal utama yang ingin dituju adalah adanya kerjasama pembinaan
antara supervisor dan target supervisor dan target supervisor. Langkah ini
dilakukan agar target supervisi ikut merasakan sendiri terhadap program
supervisi yang dijalankan kepadanya. Untuk itu, supervisor tidak boleh boleh
bersifat otoriter dalam menjalankan kegiatan supervisi.[6] Keseluruhan tipe supervisi
demokratis ini difokuskan ke dalam satuan pendidikan meliputi manajemen
kurikulum pembelajaran; kesiswaan; sarana prasarana; ketenagaan; keuangan;
hubungan sekolah dengan masyarakat dan layanan khusus.
Berbagai macam
teknik dapat digunakan oleh supervisor dalam membantu guru meningkatkan situasi
belajar mengajar, baik secara individual maupun kelompok. Sahertian (1982:45)
teknik – teknik dalam supervisi pendidikan antara lain,
TEKNIK SUPERVISI
A. Teknik yang bersifat
Individual
·
Perkunjungan
Kelas
Kepala sekolah/supervisor datang ke kelas untuk melihat cara guru
mengajar di kelas. Tujuan dari perkunjungan kelas adalah untuk memperoleh data
mengenai keadaan sebenarnya selama guru mengajar. Supervisor dapat
berbincang-bincang dengan guru tentang kesulitan yang dihadapi guru-guru.
Selain itu menurut Burhanuddin, dkk (2007: 119) selama kunjungan kelas kepala
sekolah dan pengawas antara lain dapat:
1)
Mempelajari
kekuatan dan kelemahan pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk pengembangan dan
pembinaan lebih lanjut
2)
Mengidentifikasikan
kendala yang dihadapi sewaktu melaksanakan suatu pembaharuan pengajaran
3)
Secara
langsung mengetahui keperluan guru dan siswa dalam melaksanakan suatu gagasan
belajar mengajar secara efektif
4)
Memperoleh
sejumlah informasi untuk menyusun program pembinaan profesional secara terinci
5)
Menumbuhkan
sikap percaya diri guru untuk berbuat dan melaksanakan pembelajaran yang lebih
baik
·
Kunjungan
observasi
Melalui perkunjungan
kelas, supervisor dapat mengobservasi situasi belajar-mengajar yang sebenarnya.
Ada 2 macam observasi kelas antara lain, Observasi langsung dan Observasi tidak
langsung. Tujuan observasi:
a. Untuk memperoleh data yang subjektif.
b. Bagi guru sendiri dapat membantu untuk mengubah cara-cara mengajar ke arah
yang lebih baik.
c. Bagi murid-murid dapat menimbulkan pengaruh positif terhadap kemajuan
belajar mereka.
·
Membimbing
guru- guru tentang cara- cara mempelajari pribadi siswa dan mengatasi
pronlemayang dialamin siswa
Banyak masalah yang dialami guru dalam mengatasi kesulitan- kesulitan
belajar siswa. Misalnya siswa yang lamban dalam belajar, tidak dapat memusatkan
perhatian, siswa yang nakal, dan siswa yang kurang bergaul dengan temannya. Meskipun
dibeberapa sekolah mungkin telah dibentuk bagian bimbingan dan konseling,
masalah yang sering timbul didalam kelas yang disebabkan oleh siswa itu
sendirilebih baik dipecahkan atau diatasi oleh guru kelas itu sendiri dari pada
diserahkan kepada guru bimbingan atau konselor yang mungkin akan memakan waktu
yang lebih lama mengatasinya. Disamping itu kita harus menyadari bahwa guru
kelas adalah pembimbing yang utama.
·
Membimnbing
guru- guru dalam hal- hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah
Antara
lain:
Ø Menyusun program Catur Wulan
Ø Menyusun Program Satuan Pelajaran
Ø Mengorganisasi kegiatan pengelola kelas
Ø Melaksanakan teknik evaluasi pengajaran
Ø Menggunakan media dan sumber dalam proses belajar mengajar
Ø Mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ekstyrakulikuler, study
tour, dan sebagainya.
B. Teknik-teknik yang
bersifat Kelompok
Tehnik-tehnik yang yang bersifat kelompok ialah tehnik-tehnik yang
digunakan itu dilaksanakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru
dalam suatu kelompok. Pertemuan orientasi bagi guru baru ( orientation meeting
for new teacher) Pertemuan itu ialah salah satu daripada pertemuan yang
bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja yang baru.
Pertemuan orientasi ini bukan saja guru baru tapi juga seluruh staf guru.
1.
Rapat Guru
Ada beberapa
macam rapat yang diadakan di sekolah. Ada rapat dewan guru, rapat guru-guru,
dan rapat personalia sekolah. Jika ditinjau dari sudut waktu, dibedakan menjadi
berikut:
1)
Rapat yang diadakan pada waktu
tertentu, misalnya:
a.
Rapat permulaan tahun ajaran baru
b.
Rapat akhir tahun ajaran
c.
Rapat mingguan, bulanan, dan rapat
kenaikan kelas.
d.
Rapat yang diadakan
sewaktu-waktu,misalnya karena ada kejadian atau keperluan, guru-guru secara
kilat diundang untuk berunding.
2)
Rapat dalam keadaan darurat,
diadakan karena keadaan mendesak. Rapat darurat diadakan secara tiba-tiba.
2.
Workshop
Workshop adalah
suatu kegiatan belajar kelompok yang terjadi dari sejumlah pendidik yang sedang
memecahkan masalah melalui percakapan dan bekerja secara kelompok. Hal–hal yang
perlu diperhatikan pada waktu pelaksanaan workshop antara lain: 1) Masalah
yang dibahas bersifat “Life cntered”dan muncul dari guru tersebut, 2) Selalu
menggunakan secara maksimal aktivitas mental dan fisik dalam kegiatan sehingga
tercapai perubahan profesi yang lebih tinggi dan lebih baik.
Workshop
adalah salah satu teknik supervisi yang memberi kesempatan kepada para peserta
untuk memikirkan masalah mereka, dibantu oleh nara sumber atau resource people,
sambil berusaha memecahkannya. Salah satu fungsi dari workshop adalah
memperbesar, memperkuat, serta mempertimbangkan keterampilan peserta dalam
kerja kelompok.
Unsur yang
penting dalam workshop adalahcommittee work atau pekerjaan panitia.
Panitia utama adalah perencana yang bertanggung jawab atas perencanaan,
organisasi, dan perbaikan program. Panitia lain yang diperlukan ialah panitia
perpustakaan, penilaian, publikasi, bulletin board, dekorasi, dan
akomodasi.
3.
Seminar
Secara
terminology seminar adalah sebuah kegiatan yang di buat untuk penyampaian suatu
karya ilmiah dari seorang pakar atau peneliti yang dipresentasekan kepada
peserta agar dapat mengambil keputusan yang sama terhadap karya ilmiah antara
sumber dengan peserta.
Seminar
tentunya haruslah direncanakan baik waktu, tempat, peserta dan juga menentukan
pengarah dan sumber dari hasil karya ilmiah agar dapat terlaksana dengan baik
sesuai dengan tujuan seminar yang akan dilaksanakan. Sebagaimana kita ketahui
tujuan seminar pendidikan adalah untuk mengkoreksi kembali hasil dari sebuah
karya ilmiah untuk mengambil keputusan bersama demi kesempurnaan hasil.
Kegiatan seminar pendidikan tanpa perencanaan akan jauh dari pada tujuan
seminar tersebut, seorang peneliti atau narasumber dalam seminar juga harus
benar-benar sudah memahami dan menguasai isi dari hasil yang ia dapatkan dan
peserta juga telah mengetahui untuk apa dia mengikuti seminar dan benar-benar
sudah mengetahui minimal judul dari yang akan diseminarkan serta harus ada
seorang pengarah dalam acara seminar tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar